Mabuk dan Kecanduan Ideologi KORUP bernama PENGHAPUSAN DOSA—Ideologi KORUP-BERACUN yang Begitu Adiktif dan Membuat Pemeluknya Mabuk dan Kecanduan
Tuhan yang Lebih PRO kepada KORUPTOR DOSA, Umat AGAMA
DOSA
Question: Ada agama, yang mengajarkan kepada umatnya untuk
kompromistik terhadap dosa dan maksiat, dimana setiap tahunnya melakukan ritual
“kembali fitrah”, lalu selama setahun berikutnya kembali kompromistik terhadap
dosa-dosa dan maksiat, kembali dilanjutkan dengan ritual “kembali fitrah”,
kembali berkubang dalam dosa dan maksiat-maksiat, dilanjutkan dengan ritual
“kembali fitrah”, kembali menimbun diri dengan segunung dosa dan maksiat, dilanjutkan
dengan ritual “kembali fitrah” setahun sekali, dan begitu seterusnya. Itukah yang
disebut “taubat”, ataukah “tobat sambal”? Bukankah artinya itu merupakan ajaran
“Agama DOSA”, karena justru mempromosikan gaya hidup penuh dosa alih-alih
mengkampanyekan cara hidup higienis dari dosa dan maksiat?
Bila jadi penjahat (pendosa
yang berdosa) saja masuk surga karena ritual “kembali fitrah” setahun sekali,
maka untuk apa jadi orang baik-baik, orang yang bertanggung-jawab atas
perbuatan buruknya sendiri, ataupun menjadi orang suci yang terlatih dalam
disiplin diri ketat bernama “mawas diri” (self-control)?
Jika memang ada yang namanya “kembali fitrah”, maka untuk apa menjadi sekadar
“pencuri sandal”, mengapa tidak menjadi seorang “koruptor kelas hiu dan kelas
paus”? Bukankah yang hebat, ialah mereka yang berjiwa ksatria dengan menegakkan
prinsip meritokrasi egaliter bernama siap-berani bertanggung-jawab atas
perbuatan-perbuatannya sendiri?
Bukankah prinsip emas sudah mengajarkan, “jangan perlakukan orang lain sebagaimana kita tidak ingin diperlakukan, dan perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”? Bila tidak ada seorang pun diantara kita yang ingin dijadikan KORBAN, maka mengapa menjadikan orang lain sebagai KORBAN yang dilukai, disakiti, maupun dirugikan, lalu secara tidak bertanggung-jawab sang pelaku (pendosa) melakukan ritual “kembali fitrah” alias lari dari tanggung-jawabnya? Bukankah hanya seorang pendosa yang tidak bertanggung-jawab yang berharap serta memohon “PENGHAPUSAN DOSA”?